Rabu, 19 Desember 2012

LAPORAN BUKU KAJIAN WACANA KARYA MULYANA, M.HUM


 BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Menurut KBBI (2008), wacana adalah (1) komunikasi verbal; percakapan; (2) lingkungan keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan; (3) lingkungan satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato atau khutbah; (4) lingkungan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; (5) pertukaran ide secara verbal.
Kridalaksana (2001) memaparkan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar dalam hierarki gramatikal.
Alwi, dkk (2003: 419) memaparkan bahwa rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain itu membentuk satu kesatuan yang dinamakan wacana.
            Tarigan (1987: 27) memaparkan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan kohesi dan koherensi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan maupun tertulis.

1.2  Tujuan
Tujuan dari laporan buku yang berjudul kajian wacana untuk mengetahui:
1.   Apakah yang dimaksud dengan wacana ?
2.   Bagaimanakah cara menganalisis sebuah wacana?
3.   Metode apakah yang bisa dipakai dalam menganalisis wacana?
4.    Bagaimanakah cara untuk  mengaplikasikan metode dalam wacana?
5.   Apakah yang dimkasud dengan prinsip-prinsip analisis wacana?.

1.3  Manfaat
Manfaat dari laporan buku ini adalah bisa mengetahui apakah itu wacana,  bagaimana cara untuk mengkaji, menganalisis, sebuah wacana serta bisa mengaplikasiakan prinsip-prinsip dalam menganalisis sebuah wacana.

1.4  Identitas Buku
1.      Nama pengarang: Mulyana, M.Hum
2.      Judul Buku: Kajian Wacana (Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip analisis Wacana).
3.      Penerbit           : Tiara wacana
4.      Tahun terbit     : 2005
5.      Cetakan           : Pertama        
6.      Halan Buku     : 166 halaman
7.      Kota                : Yogyakarta
8.      ISBN               : 979-9340-74-8


















BAB II
INTISARI

Kajian Wacana
Bab I
Pendahuluan

A.  Memahami Dunia Lewat Kajian Wacana
Wacana merupakan unsur kebahasaan yang relatif paling kompleks dan paling lengkap. Satuan pendukung kebahasaannya meliputi fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat paragraf, hingga karangan utuh. Tujuannya, tidak lain, untuk membekali pemakai bahasa agar dapat memahami dan memakai bahasa dengan baik dan benar.
Kajian wacana berkaitan dengan pemahaman tentang tindakan manusia yang dilakukan dengan bahasa (verbal) dan bukan bahasa (nonverbal). Hal ini menunjukkan, bahwa untuk memahami wacana dengan baik dan tepat, diperlukan bekal bekal pengetahuan kebahasaan, dan bukan kebahasaan (umum). Pernyataan itu mengisyaratkan, betapa luas runag lingkup yang harus ditelusuri dalam kajian wacana (Soenjono Dardjowidjojo, 1986:108).

Bab II
Pengertian dan Ruang Lingkup Wacana

A.  Etimologi Istilah Wacana
Istilah “wacana” berasal dari bahasa Sanskerta wac/wak/vak, artinya ‘berkata’, ‘berucap’ (Douglas, 1976:266). Bila dilihat dari jenisnya, kata wac dalam lingkup morfologi bahasa Sanskerta, termasuk kata kerja golongan III parasmaepada(m) yang bersifat aktif, yaitu ‘melakukan tindakan ujar’. Kata tersebut kenudian mengalami perubahan menjadi wacana. Bentuk ana yang muncul di belakang adalah sufiks (akhiran), yang bermakna ‘membedakan’ (nominalisasi). Jadi, kata wacana dapat diartikan sebagai ‘perkataan’ atau ‘tuturan’.
Dalam Kamus Bahasa Jawa Kuno-Indonesia karangan Wojowasito (1989:651), terdapat kata waca yang berarti ‘baca’, kata u/amaca yang artinya ‘membaca’, pamacan (pembacaan), ang/mawacana (berkata), wacaka (mengucapkan), dan wacana yang artinya ‘perkataan’. Kata yang disebut terakhir digunakan dalam konteks kalimat bahasa Jawa Kuno berikut:”Nahan wuwus sang tapa sama madhura wacana dhara” (Demikian sabda sang pendita, ramah sikap dan perkataannya).
Saat ini istilah wacana banyak bermunculan dan digunakan dalam berbagai aspek. Di dunia pewayangan misalnya, dikenal istilah wacana-pati (dewa yang bertugas sebagai juru bicara), anta wacana (karakter/pola ucapan wayang).

B.  Wacana, Discourse, Discursus
Kata discourse  sendiri berasal dari bahasa Latin “discursus” yang berarti ‘lari ke sana kemari’, ‘lari bolak-balik’. Kata ini diturunkan dari ‘dis’ (dari/dalam arah yang berbeda) dan currere (lari). Jadi discursus berarti ‘lari dari arah yang berbeda’. Perkembangan asal-usul lata itu dapat digambarkan sebagai berikut:
dis + currere → discursus → discourse (wacana)
            Webster (1983:522) memperluas makna discourse sebagai berikut: (1) komunikasi kata-kata, (2) ekspresi gagasan-gagasan, (3) risalah tulis, ceramah, dan sebagainya.
            Istilah discourse ini selanjutnya digunakan oleh para ahli bahasa dalam kajian linguistik, sehingga kemudian dikenal istilah discourse analysis (analisis wacana). Di Indonesia, ilmu tentang analisis wacana baru berkembang pada pertengahan 1980-an, khususnya berkenaan dengan menggejalanya analisis di bidang antropologi, sosiologi, dan ilmu politik (Dede Oetomo, 1993:4).
            Unsur pembeda antara ‘bentuk wacana’ dengan ‘bentuk bukan wacana’ adalah pada ada tidaknya kesatuan makna (organisasi semantis) yang dimilikinya. Oleh karenanya, criteria yang relatif paling menentukan dalamwacana adalah keutuhan maknanya. Ketika seseorang di suatu warung makan mengatakan: “Soto, es jeruk, dua”. Ucapan itu dapat dimaknai sebagai wacana karena mengandung keutuhan makna yang lengkap. Keutuhan itu tersirat dalam hal-hal berikut: 1) urutan kata ditata secara teratur, 2) makna dan amanatnya berkesinambungan, 3) diucapkan di tempat yang sesuai (kontekstual), dan 4) antara penyapa dan pesapa saling dapat memahami makna tuturan singkat tersebut (mutual intelligibility).
            Tarigan (1987: 27) mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang paling lengkap, lebih tinggi dari klausa dan kalimat, memiliki kohesi dan koherensi yang baik, mempunyai awal dan akhir yang jelas, berkesinambungan, dan dapat disampaikan secara lisan atau tertulis.

C.    Kedudukan Wacana Dalam Satuan Kebahasaan
Dalam satuan kebahasaan atau hirarki kebahasaan, kedudukan wacana berada pada posisi paling besar dan paling tinggi (Harimurti Kridalaksana, 1984:334). Hal ini disebabkan wacana – sebagai satuan gramatikal dan sekaligus objek kajian linguistic – mengandung semua unsur kebahasaan yang diperlukan dalam segala bentuk komunikasi.
Tiap kajian wacana akan selalu mengaitkan unsur-unsur satuan kebahasaan yang ada dibawahnya, seperti fonem, morfem, frasa, klausa, atau kalimat.

Bab III
Unsur-unsur Wacana

A.    Unsur-unsur Internal Wacana
Unsur internal suatu wacana terdiri atas satuan kata atau kalimat. Yang dimaksud dengan satuan kata adalah kata yang berposisi sebagai kalimat, atau yang juga dikenal dengan sebutan ‘kalimat satu kata’. Untuk menjadi satuan wacana yang besar, satuan kata atau kallimat tersebut akan bertalian, dan bergabung membentuk wacana.
1.      Kata dan Kalimat
Kata, dilihat dalam sebuah struktur yang lebih besar, merupakan bagian dari kalimat. Perlu diketahui bahwa ‘kalimat satu kata’ adalah bentuk ungkapan atau tuturan terpendek yang juga harus memiliki esensi sebagai kalimat. Bentuk kalimat seperti ini sering muncul dalam suatu dialog atau percakapan. Orang cenderung bertanya jawab dengan kalimat-kalimat pendek satu kata.
Dalam konteks analisis wacana, kata atau kalimat yang berposisi sebagai wacana disyaratkan memilki kelengkapan makna, informasi, dan konteks tuturan yang jelas dan mendukung. Sementara itu, berdasarkan aspek semantisnya, kalimat memilki makna sebagai serangkaian kata yang menyatakan pikiran dan gagasan yang lengkap dan logis (Gie dan Widyamartaya, 1983:92). Bahkan Fokker (1980:11) menyatakan bahwa kalimat adalah uvcapan bahasa yang memiliki arti penuh dan batas keseluruhannya ditentukan oleh intonasi (sempurna).
2.      Teks dan Konteks
Sebenarnya, istilah teks lebih dekat pemaknaannya dengan bahasa tulis, dan wacana pada bahasa lisan (Dede Oetomo, 1993:4). Dalam tradisi tulis, teks bersifat ‘monolog noninteraksi’, dan wacana lisan bersifat ‘dialog interaksi’. Dalam konteks ini, teks dapat disamakan dengan naskah, yaitu semacam bahan tulisan yang berisi materi tertentu, seperti naskah materi kuliah, pidato atau lainnya. Jadi, perbedaan kedua istilah itu semata-mata terletak pada segi (jalur) pemakaiannya saja. Namun demikian, atas dasar perbedaan itu pula kemudian muncul dua tradisi pemahaman di bidang linguistik, yaitu ‘analisis linguistik teks’ dan ‘analisis wacana’ analisis linguistik teks langsung mengandaikan objek kajiannya berupa bentuk formal bahasa, yaitu kosa kata dan kalimat. Sedangkan analisis wacana mengharuskan disertakannya analisis tentang konteks terjadinya suatu tuturan.
Teks adalah esensi wujud bahasa. Dengan kata lain, teks direalisasikan (diucapkan) dalam bentuk ‘wacana’. Mengenai hal ini Van Dyk (dalam PWJ Nababan, 1987:64) mengatakan bahwa teks lebih bersifat konseptual.
Berkaitan dengan teks, didapati pula istilah konteks (co-text), yaitu teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan teks lainnya, teks yang satu memiliki hubungan dengan teks lainnya.

B.     Unsur-unsur Eksternal Wacana
Unsur eksternal (unsur luar) wacana adalah sesuatu yang menjadi bagian wacana, namun tidak Nampak secara eksplisit. Unsur-unsur eksternal ini terdiri atas implikatur, presuposisi, referensi, dan konteks. Analisis dan pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut dapat membantu pemahaman tentang suatu wacana.
1.      Implikatur
Grice (dalam Soeseno, 1993:30) mengemukakan bahwa implikatur ialah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang sebenarnya diucapkan. Implikatur adalah maksud, keinginan, atau ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi.
Secara etimologis, implikatur diturunkan dari implicatum. Secara nominal, istilah ini hamper sama dengan kata implication, yang artinya maksud, pengertian, keterlibatan (Echols, 1984:313). Secara structural, implikatur berfungsi sebagai jembatan/rantai yang menghubungkan antara “yang diucapkan” dengan “yang diimplikasikan”.
Lebih jauh, PWJ Nababan (1987:28) menyatakan bahwa implikatur berkaitan erat dengan konvensi kebermaknaan yang terjadi di dalam proses komunikasi.
Grice (1975:44) menyatakan, bahwa ada dua macam implikatur, yaitu (1) conventional implicature (implikatur konvensional), dan (2) conversation implicature (implikatur percakapan).
Implikatur konvensional ialah pengertian yang bersifat umum dan konvensional. Implikatur konvensional bersifat nontemporer. Artinya, makna atau pengertian tentang sesuatu bersifat lebih tahan lama. Suatu leksem, yang terdapat dalam suatu bentuk ujaran, dapat dikenali implikasinya karena maknanya “yang tahan lama” dan sudah diketahui secara umum.
Implikatur percakapan memiliki makna dan pengertian yang lebih bervariasi. Pasalnya, pemahaman terhadap hal “yang dimaksudkan” sangat bergantung kepada konteks terjadinya percakaan. Implikatur percakapan hanya muncul dalam suatu tindak percakapan (speech act). Implikatur tersebut bersifat temporer (terjadi saat berlangsungnya tindak percakapan), dan non konvensional (sesuatu yang diimplikasikan tidak mempunyai relasi langsung dengan tuturan yang diucapkan (Levinson, 1991:117).
2.      Presuposisi
Istilah presuposisi adalah tuturan dari bahasa Inggris presupposition, yang berarti ‘perkiraan, persangkaan’ (PWJ Nababan, 1987:47). Gottlob Frege (dalam PWJ Nababan, 1987:48) mengemukakan bahwa semua pernyataan memiliki praanggapan, yaitu rujukan atau referensi dasar. Rujukan inilah yang menyebabkan suatu ungkapan wacana dapat diterima atau dimengerti oleh pasangan bicara, yang pada gilirannya komunikasi tersebut akan dapat berlangsung dengan lancar.
“Rujukan” itulah yang dimaksud sebagai “praanggapan” yaitu anggapan dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa yang memuat bentuk bahasa menjadi bermakna bagi pendengar/pembaca. Semua pernyataan atau ungkapan kalimat, baik yang bersifat positif maupun negatif, tetap mengandung anggapan dasar sebagai isi dan substansi dari kalimat tersebut.
Dalam konteks dialogis, Stalnager (dalam Soeseno, 1987:30) menyatakan bahwa praanggapan adalah ‘pengetahuan bersama’ (common ground) antara pembicara dan pendengar. Sumber praanggapan adalah pembicara. Artinya, perkiraan pengetahuan tentang sesuatu dimulai oleh ketika pembicara tersebut mulai mengutarakan suatu tuturan.


3.      Referensi
Secara tradisional, referensi adalah hubungan antara kata dengan benda (orang, tumbuhan, sesuatu lainnya) yang dirujuknya. Referensi merupakan perilaku pembicara/penulis. Jadi, yang menentukan referensi suatu tuturan adalah pihak pembicara sendiri, sebab hanya pihak pembicara yang paling mengetahui hal yang diujarkan denga hal yang dirujuk oleh ujarannya pendengar atau pembaca hanya dapat menerka hal yang di maksud  (direferensikan) oleh pembaca dalam ujaranya itu. Terkaan itu bersifat relatif, bisa benar, bisa pula salah (Hamid Hasan Lubis, 1993:29).
Dilihat dari acuannya, referensi dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu: (1) referensi eksophora (eksopora, situasional), dan (2) referensi endophora (endopora, tekstual). Referensi endopora dapat dipilah lagi menjadi dua jenis: yaitu: (1) referensi anaphora (anafora), dan (2) referensi cataphora (katafora) (Halliday dalam Hamid Hasan Lubis, 1993:30).
Referensi eksofora adalah penunjukan atau interpretasi terhadap kata yang relasinya terletak dan tergantung pada konteks situasional.
Sementara itu, menurut jenisnya referensi dapat dipilah  menjadi tiga jenis, yaitu: (1) referensi personal, (2) referensi demonstratif, dan (3) referensi komparatif (Hamid Hasan Lubis, 1993: 32). Referensi personal meliputi kata ganti orang (pronomina persona) pertama, yakni (saya, aku), kata ganti orang kedua (kamu, engkau, anda, kalian), dan kata ganti orang ketiga (dia, mereka). Referensi demonstratif adalah kata ganti penunjuk: ini, itu, di sana, di situ. Referensi komparatif adalah penggunaan kata yang bernuansa perbandingan. M,isalnya; seperti, bagaikan, sama, identik, serupa, dan sebagainya.
Berdasarkan bentuknya, referensi dapat dipilah menjadi tiga bagian, yaitu: (1) referensi dengan nama, (2) referensi dengan kata ganti, dan (3) referensi dengan pelesapan.
4.      Inferensi
Inferensi atau inference secara leksikal berarti kesimpulan (Echols dan Hassan, 1987:320). Dalam bidang wacana, istilah itu berarti sebagai proses yang harus dilakukan pembaca untuk memahami makna yang secara harfiah tidak terdapat di dalam wacana yang diungkapkan oleh pembicara/penulis (Anton M. Moeliono, ed., 1998:358).
Bagi Gumperz inferensi percakapan adalah proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks. Dengan cara itu, pendengar dapat menduga maksud dari pembicara. Dan dengan itu pula pendengar dapat memberikan responnya.
Untuk memahami atau menafsirkan wacana yang mengandung inferensi, dapat diterapkan dua prinsip, yaitu prinsip analogi (PA) dan prinsip penafsiran local (PPL). Prinsip analogi adalah cara menafsirkan makna wacana yang didasarkan pada akal atau pengetahuan dan pengalaman umumnya (knowledge of world). Sedangkan prinsip penafsiran local menganjurkan kepada pembaca untuk memahami wacana berdasarkan “konteks lokal” yang melingkupi wacana itu sendiri.
5.      Konteks Wacana
Wacana adalah wujud atau bentuk bahasa yang bersifat komunikatif, interpretatif, dan kontekstual. Konteks ialah situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi. Konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alas an terjadinya suatu pembicaraan/dialog.
Menurut Anton M. Moeliono (1988:336) dan Samsuri (1987:4), konteks terdiri atas beberapa hal, yakni situasi, partisipan, waktu, tempat, adegan, topic, peristiwa, bentuk, amanat, kode, dan saluran. Dalam kajian sosiolinguistik, Dell Hymes (1972) merumuskan dengan baik sekali ihwal faktor-faktor penentu peristiwa tutur tersebut, melalui akronim SPEAKING. Tiap-tiap fonem mewakili faktor penentu yang dimaksudkan.
S: settting and scene, yaitu latar dan suasana.
P: partisipants, peserta tuturan.
E: ends, hasil.
A: act sequences, pesan/amanat.
K: key, meliputi cara, nada, sikap, atau semangat dalam melakukan
percakapan.
I: instrumentalities atau sarana.
N: norms, atau norma, menunjuk pada norma atau aturan yang membatasi percakapan.
G: genres, atau jenis, yaitu jenis atau bentuk wacana.
Menurut Preston (dalam Susilo Supardo, 1988:12) unsur-unsur sosiolinguistik penentu percakapan di atas, merupakan penjabaran dari konteks nonlinguistic, yang terdiri dari: (1) konteks dialektal, yang meliputi partisipan dan jenis wacana, (2) konteks diatipik, yaitu latar, hasil, dan amanat, dan (3) konteks realisasi, yakni sarana (saluran), norma, dan cara berkomunikasi.
Imam Syafe’ie (1990:126) menambahkan bahwa, apabila dicermati dengan benar, konteks terjadinya suatu percakapan dapat dipilah menjadi empat macam, yaitu:
a.       Konteks linguistik (linguistic context)
b.      Konteks epistemis (epistemic context)
c.       Konteks fisik (physical context)
d.      Konteks social (social context)

Bab IV
Keutuhan Struktur Wacana

A.    Struktur Wacana
Keutuhan struktur wacana lebih dekat maknanya sebagai kesatuan maknawi (semantis) ketimbang sebagai kesatuan bentuk (sintaksis) (lihat Halliday dan Hassan, 1976:2). Suatu rangkaian kalimat dikatakan menjadi struktur wacana bila didalamnya terdapat hubungan emosional (maknawi) antara bagian yang satu dengan bagian lainnya.

B.     Aspek-aspek Keutuhan Wacana
Wacana yang utuh adalah wacana yang lengkap, yaitu mengandung aspek-aspek yang terpadu dan menyatu. Aspek-aspek yang dimaksud, antara lain, adalah kohesi, koherensi, topic wacana, aspek leksikal, aspek gramatikal, aspek fonologis, dan aspek semantic. Keutuhan wacana juga didukung oleh setting atau konteks terjadinya wacana tersebut ( lihat kembali rumusan Dell Hymes dengan akronim SPEAKING).
Beberapa aspek pengutuh wacana yang disebutkan di atas dapat dikelompokkan ke dalam dua unsur, yaitu unsur kohesi dan unsur koherensi. Unsure kohesi meliputi aspek-aspek leksikal, gramatikal, fonologis, sedangkan unsur koherensi mencakup aspek semantik, dan aspek topikalisasi.
1.      Kohesi
Anton M. Moeliono (1988:34) menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh mensyaratkan kalimat-kalimat yang kohesif. Kohesi wacana terbagi ke dalam dua aspek, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal antara lain adalah referensi, substitusi, ellipsis, konjungsi, sedangkan yang termasuk kohesi leksikal adalah sinonim, repetisi, kolokasi (Halliday, 1976:21).
Halliday dan Hassan (1976:4) mengemukakan bahwa unsur-unsur kohesi wacana dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Unsur kohesi gramatikal terdiri dari reference (referensi), substitution (substitusi), ellipsis (elipsis), dan conjunction (konjungsi), sedangkan kohesi leksikal terdiri atas reiteration (reiterasi) dan collocation (kolokasi).
Referensi (penunjukan) merupakan bagain kohesi gramatikal yang berkaitan dengan penggunaan kata atau kelompok kata untuk menunjuk kata atau kelompok kata atau satuan gramatikal lainnya (M. Ramlan, 1993:12).
Substitusi (penggantian) adalah proses dan hasil penggantian unsure bahasa oleh unsure lain dalam satuan yang lebih besar. Penggantian dilakukan untuk memperoleh unsur pembeda atau menjelaskan struktur tertentu (Harimurti Kridalaksana, 1984:100).
Ellipsis (penghilangan/pelesapan) adalah proses penghilangan kata atau satuan-satuan kebahasaan lain. Bentuk atau unsur yang dilesapkan dapat diperkirakan ujudnya dari konteks bahasa atau konteks luar bahasa (Harimurti Kridalaksana, 1984:40).
Konjungsi (kata sambung) adalah bentuk atau satuan kebahasaaan yang berfungsi sebagai penyambung, perangkai, atau penghubung antara kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, dan seterusnya (Harimurti Kridalaksana, 1984:105; HG Tarigan, 1987:101).
Kohesi leksikal atau perpaduan leksikal adalah hubungan leksikal antara bagian-bagian wacana untuk mendapatkan keserasian struktur secara kohesif.
2.      Koherensi
Istilah “koherensi” mengandung makna ‘pertalian’. Dalam konsep kewacanaan, berarti pertalian makna atau isi kalimat (HG Tarigan, 1987:32). Koherensi juga berarti hubungan timbale balik yang serasi antarunsur dalam kalimat (Gorys Keraf, 1984:38). Sejalan dengan itu HS Wahjudi (1989:6) berpendapat bahwa hubungan koherensi ialah keterkaitan antara bagian yang satu dengan bagian lainnya, sehingga kalimat memiliki kesatuan makna yang utuh. Wacana yang koheren memiliki ciri-ciri: susunannya teratur dan amanatnya terjalin rapi, sehingga mudah diinterpretasikan (Samiati, 1989:5).
Brown dan Yule (1983:224) menegaskan bahwa koherensi berarti kepaduan dan keterpahaman antarsatuan dalam suatu teks atau tuturan.
Lebih lanjut Halliday dan Hassan (1976:2) menegaskan bahwa struktur wacana pada dasarnya bukanlah struktur sintaktik, melainkan struktur semantic, yakni semantic kalimat yang di dalamnya mengandung proposisi-proposisi.
Kebermaknaan unsur koherensi sesungguhnya bergantung kepada kelengkapan yang serasi antara teks (wacana) dengan pemahaman petutur/pembaca (Brown dan Yule, 1986:224). Labov (dalam Soeseno Kartomihardjo, 1996:4) secara jelas menyatakan bahwa suatu wacana besifat koheren, bukan hanya karena hubungan antarbagian, melainkan juga karena adanya reaksi tindak ujar yang signifikan dari pembaca atau pendengar.
Hubungan koherensi adalah suatu rangkaian fakta dan gagasan yang teratur dan tersusun secara logis. Koherensi dapat terjadi secara implisit (terselubung) karena berkaitan dengan bidang makna yang memerlukan interpretasi.
Sementara itu, Harimurti Kridalaksana (1984:40) mengemukakan bahwa hubungan koherensi wacana sebenarnya adalah ‘hubungan semantis’. Artinya hubungan itu terjadi antarproposisi. Hubungan semantis yang dimaksud antara lain adalah:
a.       Hubungan sebab-akibat
b.      Hubungan sarana-hasil
c.       Hubungan alasan-sebab
d.      Hubungan sarana-tujuan
e.       Hubungan latar-kesimpulan
f.       Hubungan syarat-hasil
g.      Hubungan perbandingan
h.      Hubungan parafrastis
i.        Hubungan amplikatif
j.        Hubungan aditif waktu (simultan dan beruntun)
k.      Hubungan aditif non waktu
l.        Hubungan identifikasi
m.    Hubungan generik-spesifik
n.      Hubungan ibarat
3.      Perbedaan Kohesi dan Koherensi
Pada tabel di bawah ini digambarkan perbedaan relatif antara kohesi dan koherensi.
Kohesi
Koherensi
Kepaduan
Keutuhan
Aspek bentuk (form)
Aspek lahiriah
Aspek fomal
Organisasi sintaktik
Unsur internal
Kerapian
Kesinambungan
Aspek makna (meaning)
Aspek batiniah
Aspek ujaran
Organisasi semantik
Unsur eksternal

            Jadi perbedaan di antara kedua aspek tersebut ialah pada sisi titik dukung terhadap struktur wacana. Artinya, dari arah mana aspek itu mendukung keutuhan wacana. Bila dari dalam (internal), maka disebut sebagai aspek kohesi. Sebaliknya bila aspek itu berasal dari luar, maka disebut sebagai koherensi.

Bab V
Tema, Topik, dan Judul Wacana

A.    Tema Wacana
Tema atau theme, menurut Yule dan Brown (1983:126) adalah the starting of utterance (permulaan dari suatu ujaran). Tema bersifat abstrak (Anton M. Moeliono, 1988:353). Ruang lingkupnya lebih luas daripada topik. Tema merupakan perumusan dan kristalisasi topik-topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan, atau tujuan yang akan dicapai melalui topik tersebut (Gorys Keraf, 1984:107).
Tema yang baik setidaknya memiliki empat sifat, yaitu (1) kejelasan, (2) kesatuan, (3) perkembangan, dan (4) keaslian. Sifat kejelasan menyangkut pada gagasan sentral, uraian kalimat, dan rincian-rinciannya. Sifat kesatuan atau keutuhan ialah, bahwa semua bagian dalam wacana mengacu dan menuju pada gagasan utama (tema). Sifat perkembangan berarti, ada proses perkembangan tema secara maksimal, logis, dan teratur. Sedangkan sifat keaslian atau orisinalitas dapat dimaknai sebagai kejujuran dalam mengungakpkan fakta-fakta, gagasan, dan pikiran dengan kemampuan sendiri.

B.     Topik Wacana
Topik berasal dari bahasa yunani topoi, yang artinya ‘tempat’. Secara mendasar, topik diartikan sebagai pokok pembicaraan. Anton M. Moeliono (1988:351) menjelaskan bahwa wujud topik bisa berbentuk frasa atau kalimat yang menjadi inti pembicaraan atau pembahasan. Dalam wacana, topik menjadi ukuran kejelasan wacana.
            Dalam kajian ini, dua jenis topik yang perlu dibedakan, yakni (1) topok dalam kalimat, dan (2) topik dalam wacana (rangkaian kalimat).Topik Kalimat, Hocket (via Suwarna, 1996:1) membedakan topik dan comment dari suatu kalimat. Topik Wacana, topik wacana adalah proposisi yang menjadi bahan utama pembicaraan atau percakapan. Dalam suatu dialog, pembicara dapat berbicara tentang ‘satu topik’ tertentu, atau ‘dua topik’ yang berbeda.
1.      Topikalisasi
Topikalisasi ialah pemilihan dan penandaan topik, yaitu sesuatu yang dibicarakan (Wedhawati, 1979:12). Dalam wacana, topikalisasi adalah proses saling mendukung antar bagian untuk membentuk satu gagasan utama.
a.      Topikalisasi Antarkalimat
Topikalisasi antarkalimat terjadi apabila sebuah topik atau gagasan utama terdapat dalam suatu kalimat, dan kalimat-kalimat lainnya berfungsi sebagai bagian pendukungnya. Misalnya topik “ucapan terimakasih”. Proposisi ini merupakan gagasan utama (topik) yyang perlu diberi penjelasan sejumlah kalimat agar gagasan itu menjadi jelas dan informatif.
Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang berjasa dalam penyusunan skripsi ini.
Gagasan utama pada kalimat diatas adalah ‘ucapan terimakasih’. Kalimat ini perlu diperjelas dengan informasi mengapa perlu mengucapkan terimaksih, siapa pihak yang dimaksud, dan apa peran mereka.
b.      Topikalisasi Antarparagraf
Topikalisasi antarparagraf terjadi apabila topik utama berada dalam satu paragraf, sedangkan paragraf lainnya menjadi pendukungnya.

C.    Judul Wacana
Judul merupakan bagian terkecil dari keseluruhan wacana. Sifatnya sangat spesifik dan informatif, dan biasanya langsung mengarah pada isi wacana (karangan). Judul, menjadi sangat penting, karena dianggap sebagai pintu informasi paling awal, ringkas, dan mewakili isi tulisan(karangan) yang dijelaskannya. Meskipun tidak selalu benar, isi karangan (wacana) dapat ditebak isinya dari judul yang disajikan pengarangnya? Penulisnya.
Meskipun tema, topik, dan judul dapat dibeda-bedakan, tetapi dalam realisasinya terkadang terjadi tumpang-tindih. Yang jelas, tema bersifat lebih makro dibandingtopik, dan topik bersifat lebih makro dibanding judul. Satu tema dapat dipilah menjadi dua atau banyak topik, dan satu topik dapat dipilah menjadi dua atau banyak judul.

Bab VI
Klasifikasi Wacana

Klasifikasi atau pembagian wacana sangat terganutng pada asfek dan sudut pandang yang digunakan. Dalam hal ini, wacana setidaknya dapat dipilah atas dasar beberapa segi, yaitu: (1) bentuk, (2) media, (3) jumlah penutur, dan (4) sifat.

A.    Berdasarkan Bentuk
Dengan mendasarkan pada bentuknya, Robert E. Longarce membagi wacana menjadi 6 (enam) jenis, yaitu: wacana naratif, prosedural, ekspositori, hortatori, epistoleri, dramatik. Hasil pemilahan ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Wedhawati (1979:41), yakni dengan menambah satu jenis wacana lagi, yaitu wacana seremonial.
1.      Wacana Naratif
Wacana naratif adalah bentuk wacana yang banyak dipergunakan untuk menceritakan suatu kisah. Uraiannya cenderung ringkas. Bagian-bagian yang dianggap penting sering diberi tekanan atau diulang. Bentuk wacana naratif umumnya dimulai dengan alenia pembuka, isi, dan diakhiri oleh alenia penutup.
2.      Wacana Prosedural
Wacana proseduraldigunakan untuk memberikan petunjuk atau keterangan bagaimana sesuatu harus dilaksanakan. Oleh karena itu, kalimat-kalimatnya berisi persyaratan atau aturan tertentu agar tujuan kegiatan tertentu itu berhasil dengan baik.
3.      Wacana Ekspositori
Wacana eskpositori bersifat menjelaskan sesuatu secara informatif. Bahasa yang digunakan cenderung denotatif dan rasional. Termasuk dalam wacana ini adalah ceramah ilmiah , artikel di media massa.
4.      Wacana Hortatori
Wacana hortatori digunakan untuk mempengaruhi pendengar atau pembaca agar tertarik terhadap pendapat yang digunakan. Sifatnya persuasif. Tujuannya ialah mencari pengikut/penganut agar bersedia melakukan, atau paling tidak menyetujui, pada hal yang disampaikan dalam wacana tersebut.
5.      Wacana Dramatik
Wacana dramatik adalah bentuk wacanayang berisi percakapan antar penutur.
6.      Wacana Epistoleri
Wacana epistoleri biasa dipergunakan dalam surat menyurat. Pada umumnya memiliki bentuk dan sistem tertentu yang sudah menjadi kebiasaan atau aturan.
7.      Wacana Seremonial
Wacana seremonial adalah bentuk wacana yang digunakan dalam kesempatan seremonial (upacara). Inilah bentuk wacana yang dinilai khas dan khusus dalam bahasa jawa . Wacana ini umunya tercipta karena tersedianya konteks sosio –kultural yang melatarbelakanginya.

B.     Berdasarkan Media Penyampaian
Berdasarkan media penyampaiannya, wacana dapat dipilah menjadi dua, yaitu wacana tulis dan wacana lisan.
1.      Wacana Tulis
Wacana tulis (written discourse) adalah jenis wacana yang disampaikan melalui tulisan. Sampai saat ini, tulisan masih merupakan media yang sngat efektif dan efisien untuk menyampaikan berbagai gagasan, wawasan, ilmu pengetahuan, atau apapun yang dapat mewakili kreativitas manusia.
2.      Wacana Lisan
Wacana lisan (spoken discourse) adalah jenis yang disampaikan secara lisan atau langsung dengan bahasa verbal. Jenis wacana ini sering disebut sebagai tuturan (speech) atau ujaran (utterance). Adanya kenyataan bahwa pada dasarnya bahasa kali pertama lahir melalui mulut/lisan.
Willis Edmonsond (1991), dalam bukunya yang berjudul spoken discourse (wacana lisan) secara tidak langsung menyebut bahwa wacana lisan memiliki kelebihan dibanding wacana tulisan. Beberapa kelebihan di antaranya ialah:
1)      Bersifat alami (natural) dan langsung.
2)      Mengandung unsur-unsur prosodi bahasa (lagu, intonasi).
3)      Memiliki sifat suprasensial (di atas strukturkalimat).
4)      Berlatarbelakang konteks situasional.

C.    Berdasarkan Jumlah Penutur
Berdasarkan jumlah penuturnya, wacana dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu (1) wacana monolong dan (2) wacana dialog.
1.      Wacana Monolog
Wacana monolog adalah jenis wacana yang dituturkan oleh satu orang. Umumnya, wacana menolong tidak menghendaki dan tidak menyediakan alokasi waktu terhadap respon pendengar atau pembacanya. Penuturannya bersifat satu arah, yaitu dari pihak penutur.
2.      Wacana Dialog
Wacana dialog adalah jenis wacana yang dituturkan oleh dua orang atau lebih. Jenis wacana ini bisa berbentuk tulisan ataupun lisan.
Dalam kajian wacana, istilah penutur (addreser) atau orang pertama (o1), terkadang disebut pula sebagai penyapa, pembicara, penulis (wacana tulis). Sedangkan petutur (addresee) atau orang kedua (o2), sering disamakan dengan sebutan pesapa, mitra bicara, lawan bicara, pasangan bicara, pendengar, pembaca (wacana tulis).

D.    Berdasarkan Sifat
Berdasarkan sifatnya, wacana dapat digolongkan menjadi dua, yaitu wacana fiksi dan wacana nonfiksi.
1.      Wacana Fiksi
Wacana fiksi adalah wacana yang bentuk dan isinya beorientasi pada imajinasi. Bahasanya menganut aliran konotatif, analogis, dan multiinterpretable. Umumnya, penamppilan dan rasa bahasanya dikemas secara literer atau estesis (indah).
Wacana fiksi dapat dipilah menjadi tiga jenis , yaitu: wacana prosa, wacana puisi, dan wacana drama.
a.      Wacana Prosa
Wacana prosa adalah wacana yang disampaikan atau ditulis dalam bentuk prosa (gancaran=jawa). Wacana ini dapat berbentuk tulis atau lisan (hg tarigan, 1987:57).
b.      Wacana Puisi
Wacana puisi merupakan jenis wacana yang dituturkan atau disampaikan dalam bentuk puisi.
c.       Wacana Drama
Wacana drama (dramatik) adalah jenis wacana yang disampaikan dalam bentuk drama. Pola yang digunakan umumnya berbentuk percakapan atau dialog.
2.      Wacana Nonfiksi
Wacana nonfiksi disebut juga sebagai wacana ilmiah.  Jenis wacana ini disampaikan dengan pola dan cara-cara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan  kebenarannya. Bahasa yang digunakan bersifat denotatif, lugas dan jelas. Asfek estetika bukan lagi menjadi tujuan utama. Secara umum penyampainnya tidak mengabaikan kaidah-kaidah gramatika bahasa yang bersngkutan.

E.     Berdasarkan Isi
Isi wacana sebenarnya lebih bermana sebagai ‘nuansa’ atau ‘muatan’ tentang hal yang ditulis, disebutkan, diberitakan, atau diperbincangkan oleh pemakai bahasa (wacana).  Berdasarkan keadaan dan komleksitas kehidupan manusia, nuansa persoalan yang satu dengan persoalan lainnya menjadi sulit dipisahkan.
             Berdasarkan isinya, wacana dapat dipilah menjadi:wacana politik, wacana sosial, wacana ekonomi, wacana budaya, wacana militer, wacana hukum, dan
wacana kriminalitas. Wacana yang berkembang dan digunakan secara khusus dan terbatas pada ‘dunia-nya itu, dapat juga disebut sebagai register, yaitu pemakaian bahasa dalam suatu lingkungan dan kelompok tertentudengan nuansa makna tertentu pula.
1.      Wacana Politik
Munculnya wacana tersebut antara lain disebabkan oleh banyaknya konflik internal di dalam tubuh partai politik. Konflik berbau kepentingan politis tersebut kemudian melahirkan partai baru, atau partai anakan yang membelot partai induk (sebelumnya). Partai baru yang lahir karena memiliki kepentingan yang berbeda inilah yang kemudian dikenal dengan sebutan ‘partai sempalan’. Demikian juga dengan sebutan konsolidasi tandingan’. Maknanya adlah ‘persiapan perang politik melawan partai musuh’.
2.      Wacana Sosial
“Perubahan status tanah dipersoalkan anggota DPRD”
            Masalah tanah adalah satu dari sejuta masalah hidup manusia yang amat vatal dan sensitif . Artinya, sangat mudah menimbulkan konflik sosial .sebagaimana contoh diatas, persoalan tanah pun lembaga wakil rakyat (DPRD).
3.      Wacana Ekonomi
            Dalam wacana ekonomi, ada beberapa register yang hanya dikenal didunia bisnis dan ekonomi. Ungkapan – ungkapan seperti persaingan pasar, biaya produksi tinggi, langkanya sembako, konsumen dirugikan, inflasi, devaluasi, harga saham gabungan, mata uang, dan sejenisnya merupakan contoh – contoh register ekonomi.
4.      Wacana Budaya
            Wacana budaya berkaitan dengan aktivitas kebudayaan. Kebudayaan lebih dimaknai sebagai wilayah ‘kebiasaan atai tradisi, adat, sikap hidup, dan hal – hal yang berkaitan denga kehidupan manusia sehari – hari. Wilayah tersebut kemudian menghasilkan bentuk – bentuk kebahasaan sebagai representasi aktivitasnya, yang kemudian disebut sebagai wacana budaya. Ungkapan budaya seperti mitung ndinani (memperingati ke-tujuh harinya) adalah satu contoh wacana budaya yang hidup dikenal oleh masyarakat jawa, yaitu aktivitas jawa yang berupa kenduri dan do’a bersama yang dilakukan masyarakat jawa untuk memperingati meninggalnya seseorangpada hari yang ketujuh.
a.       Hubungan bahasa dan Budaya
Bahasa cenderung terlibat didalam semua aspek kebudayaan. Hal – hal yang dapat menjadi hubungan kedua aspek tersebut, misalnya, adalah
·         Bahasa menjadi cermin dan wujud kebudayaan masyarakatnya.
·         Bahasa dapat digunakan sebagai sarana pengembangan budaya.
·         Budaya dipelajari antara lain dari aspek bahasanya.
Secara filogenetik (hubungan jenis), bahasanya adalah bagian dari kebudayaan (koentjaraningrat,1985:2). Namun, secara otogenetik (terjadinya dalam perorangan), justru sebaliknya, yakni seseorang belajar budaya melalui bahasanya. Dengan kata lain, manusia hidup dan memperoleh pengalaman – pengalaman kultural dari dan dengan bantuan bahasa.
Seorang sosialogi bernama fishman (PWJ Nababan,1986:51) pernah membuat pernyataan bahwa bahasa adalah kunci atau pintu utama mendalami kebudayaan suatu masyarakat. Hubungan bahasa dan budaya bersifat timbal balik saling bersinggungan. Bahasa menjadi cermin atau representasi budaya, sedangkan budaya membentuk dan mengandalkan bahasa.
5.      Wacana Militer
            Instansi militer dikenal sangat suka menciptakan istilah – istilah khusus yang hanya dikenal oleh kalangan militer. Istilah tersebut umumnya dibentuk dengan cara disigkan dan diakronimkan (baik secara silabik maupun alfabetis). Istilah seperti operasi militer, desersi, intelijen, apel pagi, sumpah prajurit, veteran, dan sejenisnya menjadi menu istilah yang biasa di dunia militer.
a.       Akronimisasi Wacana Militer
Berdasarkan pengamatan, munculnya gejala akronim baru di dunia militer biasanya berlangsung seiring dengan munculnya kebijaksanaan atau keputusan – keputusan baru, lembaga baru, pekerjaan dan tugas baru.
Contoh – contoh berikut ini adalah sejumlah akronim yang cukup akrab dikenal dikalangan militer indonesia : koramil(komando rayon militer), capratar(calon prajurit taruna), dephankam(departemen pertahanan dan keamanan), mayjen (mayor jendral), dan seabreg jenjang kepangkatan yang jusa menggunakan pola akronim.
6.      Wacana Hukum Dan Kriminalitas
            Kriminalitas menyangkut hukum, dan hukum mengelilingi kriminalitas. Berikut adalah beberapa contoh tentang wacana hukum dan kriminalitas.
a.       Tersangka DPT bertambah
b.      Tim pembela berharap kasasi dikabulkan MA.
c.       Vonis hakim lebih ringan
7.      Wacana Olahraga dan Kesehatan
      Berkaitan dengan masalah kesehatan, misalnya muncul kalimat : “Sempat jogging 10 menit, didiagnosis jantung ringan”. Istilah jogging adalah aktivitas olahraga ringan yang berkaitan dengan kesehatan. Oleh karena itu, munculnya istilah “jantung ringan” pada bagian berikutnya sama sekali bukan berarti berat jantung yang ringan (tidak berat) ,tetapi jenis sakit jantung pada stadium awal (masih belum mengkhawatirkan).

F.     Berdasarkan Gaya Dan Tujuan
1.      Wacana Iklan
a.       Pengertian Iklan
Kata advertising berasal dari bahasa latin ad-vere yang berarti menyampaikan pikiran dan gagasan kepada pihak lain (klepper,1986). Sementara spriengel (dalam Wahyudi,1999:11) menyatakan bahwa advertising adalah setiap penyampaian informasi tentang barang atau jasa dengan menggunakan media nonpersonal yang dibayar. Lebih lanjut Wright (1978)menambahkan bahwa iklanmerupakan proses komunikasi yang mempunyai kekuatan penting sebagai sarana pemasaran, membantu layanan, serta gagasan dan ide-ide melalui saluran,tertentu dalam bentukinformasi yang bersifat persuasif. Mengacu kepada pendapat Omar ( lihat Wahyudi, 1999:14) dan Kasali (1995), maka berdasarkan tujuannya iklan dapat dibedakan menjadi dua jenis,yaitu iklan perniagaan dan iklan pemberitahuan.
b.      Bahasa Iklan
Menurut Jakobson (1960)bahasa memiliki beberapa fungsi yaitu :
·         Fungsi referensial
·         Fungsi emotif
·         Fungsi konatif atau persuasif
·         Fungsi metalinguistik
·         Fungsi fatik
·         Fungsi puitik

Bab VII
Analisis Wacana

A.    Sejarah Perkembangan Analisis Wacana
Secara historis, tercatat sampai awal tahun 50-an, kajian tata bahasa masih berkutat di seputar kalimat. Baru pada tahun 1952, seorang linguis kenamaan bernama Zellig S. Harris menyatakan ketidakpuasannya terhadap ‘tata bahasa kalimat’ tersebut. Menurutnya, masih banyak persoalan kebahasaan yang tidak tersentuh oleh pisau bedah yang bernama ‘gramatika kalimat’itu. Ia lalu menulis dan mempublikasikan artikel yang berjudul “Discourse Analysis”. Karangan itu dimuat di majalah Language Nomor 28:1-3 dan 474-494.dalam tulisannya tersebut,hari mengemukakan argumentasi tenteng perrlunya mengkaji bahasa secara komprehensif, minimal tidak berhenti pada aspek internal – struktural semata. Aspek eksternal bahasa, yang justru menyelimuti kalimat secara kontekstual, juga perlu dikaji untuk mendapatkan informasi sejelas – jelasnya.
Aliran linguistik yang berkembang di amerika waktu itu adalah aliran struktualisme, buah pikiran bloomfiled (1887-1949) dan pengukut – pengikutnya(Dede Oetomo,1993:6). Linguis yang lain seperti Franz Boas (1858-1942) dan Edward Sapir (1884-1939),yang juga seorang antropolog,sebenarnya pernah mengkaji bahasa yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan dan kemasyarakatan. Namun, Bloomfiled dengan pengaruhnya yang sangat mengakar dalam aliran linguistik strukturalisme,tetap berkibar dengan ajarannya, yakni bahwa kajian linguistik harus menelaah bentuk dan subtansi bahasa itu sendiri, bukan mengkaji lainnya.
Di Amerika mucul pendekatan sosiolinguistik yang dipelopori oleh Dell Hymes, yang antara lain mengkaji masalah percakapan, komunikasi, dan bentuk sapaan, yang nantinya berkembang menjadi kajian masalah. Pada tahun- tahun itu, muncul pula kajian bahasa lainnya, seperti filsafat bahasa, dan etnografi oleh Austin (1911-1960) dan Searle:bidang etnografi komuikasi oleh Jhon  Gumperz, dan Dell Hymes: bidang etnometodologi, dialektologi,atau analisis percakapan oleh Harvey dan Erving:dan tak ketinggalan pula, kajian psikolinguistik atau psikologi dan intelegensia artifisial yang dikembangkan oleh Bartlett.
Analisis wacana sebagai disiplin ilmu dengan metodologi yang jelas dan eksplisit,baru benar – benar berkambang secara mantap pada awal tahun 1980-an. Berbagai buku kjian wacana terbit pada dasawarsa itu, misalnya Stubbs (1983),Brown dan Yule (1983), dan yang paling komprehensif karya Van Dijk (1985).

B.     Kedudukan Analisis Wacana
Hampir semua linguis sependapat dn sepakat bahwa hirarki satuan kebahasaan, wacana berada pada posisi paling puncak, paling besar dan paling luas. Hal itu mengandung pengertian bahwa analisis terhadap wacana tentunya juga memiliki kedudukan tertinggi dalam linguistik(pendekatan bahasa).
secara hirarki, pendekatan bahasa dimulai dari tingkat dan lingkup yang paling kecil menuju kepada tingkat yang paling besar. Secara berurutan, tingkat runtutan analisisnya bisa disusun sebagai berikut: analisis fonologi (bunyi) sebagai kajian awal terhadap bahasa,disusul kenudian oleh kajian morfologi (bentuk), analisis sintaksis (kalimat dan gramatiknya ), analisis semantik (makna), analisis pragmatik (pemakaian bahasa dan konteksnya), dan terakhir bidang analisis wacana (kajian tentang kata, kalimat, makna, pemakaian, dan interprestasinya.
Untuk melakukan analiss wacana, diperlukan teknik analisis yang bersifat internal dan eksternal. Unit – unit analisis internal meliputi teks dan konteks, tema, topik, judul, aspek keutuhan wacana leksikal, gramatikal,dan semantik. Sedangkan unit-unit analisis eksternal meliputi, inferensi,presuposisi,implikatur, dan pemahaman yang mendalam tentang konteks tutur yang menjadi latar belakang terjadinya suatu tuturan (wacana).
Sedikit atau banyaknya  unit – unit yang dikaji analisis linguistik dipengaruhi oleh : kemampuan dan profesionalisme analisis bahasa, ketinggian analisis, teknik dan metode analisis yang digunakan.
C.    Prinsip Pemahaman Wacana
Beberapa prinsip yang penting antara lain adalah prinsip analogi dan prinsip penafsiran lokal.
1.      Prinsip Analogi
Prinsip inimenganjurkan kepada pembaca,pendengar,atau siapapun yang ingin mengkaji wacana (baik tulisan maupun lisan) agar menyampaikan bekal pengetahuan umu, wawasan yang mendalam , atau pengalaman dunia yang luas untuk menganalisis wacana.
2.      Prinsip Penafsiran Lokal
Prinsip penafsiran lokal atau prinsip interprestasi lokal digunakan sebagai dasar menginterprestasikan wacana dengan cara mencari konteks yang melingkupi wacana itu. Konteks yang dimaksud adalah wilayah, area, atau lokal,tempat wacana itu berada.konteks tersebut sangat bergantuk pada jenis wacana yang sedang dianalisis. Konteks atau lokal yang dimaksud adalah konteks disekitar media yang digunakan sebagai sarana lahirnya wacana itu.
Dalam hal ini jika wacana dilahirkan darikonteks tuturan lisan, maka pendengar/lawan tutur harus melihat konteks yang terdekat dengan lahirnya wacana lisan tersebut (Soeseno,1993:29).

D.    Metode Analisis Wacana
Metode yang cukup substansial, sering digunakan untuk menganalisis wacana, antaralain adalah metode distribusional dengan penerapan metode distribusional, metode pragmalinguistik, metode konten analisis, dan metode deskriptif.
1.      Metode Distribusional
Merupakan metode yang digunakan untuk tujuan – tujuan analisis struktur wacana secara internal wacana (konteks). Wacana,sebagai struktur yang dipresentasikan oleh serangkaian kalimat, perlu diuraikan kesatuan dan keruntutan alur maknanya. Teknik untuk menganalisis pola keruntutan itu ialah dengan penerapan teknik permutasi (balik) dan teknil substitusi (ganti).
a.       Teknik Permutasi
Teknik permutasi adalah teknikyang digunakan untuk menguji: kesejajaran atau kelancaran makna dalam rangkaian kalimat, menguji ketegaran letak suatu unsur dalam susunan beruntun (Sudaryanto,1985:44). Cara pembalikannya ialah dengan memindahkan wujud suatu lingual sebagai satu keseluruhan. Mari kita perhatikan rangkaian kalimat berikut ini.
Bu Guru yang jadi juara itu berasal dari yogyakarta. Tinggal di desa    Caturharjo,Sleman .

Bila susunan kalimat itu dibalik, maka akan menjadi :

Tinggal di desa Caturharjo,Sleman.
Bu Guru yang jadi juara itu berasal dari yogyakarta.
                            
Susunan kalimat hasil pembalikan di atas tidak jelas makna dan informasinya. Melalui analisis permutasi, dapat dirunut adanya bagian  B ,terutama subjeknya. Bagian atau subjek kalimat itu adalah Bu Guru yang jadi juara itu yang tertulis pada bagian C. Semestinya,tautan kalimatnya adalah sebagai berikut :
Bu Guru yang jadi juara itu berasal dari yogyakarta. Bu Guru yang jadi juara itu tinggal di desa Caturharjo,Sleman.

b.      Teknik Substitusi
Merupakan teknik analisis kalimat atau rangkaian kalimat dengan cara mengganti bagian atau unsur kalimat tertentu dengan unsur lain di luar kalimat yang bersangkutan (Sudaryanto, 1985:27). Teknik ini diterapkan untuk mengetahui dan menguji keserasian tautan makna dari suatu unsur dengan konteks internalnya. Teknik ini diterapakan untuk mengetahui dan menguji keserasian tautan makna dari suatu unsur dengan konteks internalnya.
2.      Metode Pragmalinguistik
Metode pragmalinguistik adalah gabungan analisis pragmatik dan linguitik (struktural). Metode ini melihat wacana atas dasar statusnya sebagai satuan lingual atau struktur kebahasaan, akan tetapi dalam analisisnya mengedepankan aspek-aspek pragmatik .
Istilah pragmalinguistik kemudian lebih dikenal dengan sebutan pragmatik saja. Singkatnya, pragmatik merupakan kajian tentang cara bagaimana para penutur dapat memakai dan memahami  tuturan sesuai dengan konteks situasi yang tepat.  Pragmatik  menelaah makna eksternal (I Dewa Putu Wijana, 1996: 2). Misalnya, tuturan sinhkat seperti kaliamat pintunya tebuka. Pragmatik dapat disejajarkan dengan la-parole-nya de Saussure dan performance-nya. Pragmatik dapat di sejajarkan dengan la parole-nya dengan seussure  dan perpormance-nya chomosky sebagai languange use. Maka analogi dengan itu ,pendekatan wacana perlu di pertimbangkan faktor-faktor nonverbal seperti :
a.       Paralingual (intonasi ,nada ,pelan ,keras),
b.      Kinesik (gerak tubuh dalam komunikasi, gerakan mata,tangan ,dan kaki,dan sebagainya.)
c.       Proksemik ( jarak yang di ambil oleh para penutur ).
d.      Koronesik ( penggunaan dan strukturisai waktu dalam interaksi )
Di samping itu, kancah yang dipelajari pragmatik mencakup empat hal, yaitu:
a.      Dieksis
Dieksis adalah hal atau fungsi menunjuk sesuatu di luar bahasa (Harimurti Kridalaksana, 1984: 36). Contohnya seperti kalimat, Saya suka lukisan-likisan naturalisme itu.
b.      Tindak Ujar
Tindak ujar adalh fungsi bahasa sebagai sarana penindak. Semua kalimat atau ujaran yang diucapkan oleh penutur sebenarnya mengandung fungsi komunikasi tertentu. Misalnya seperti seorang ibu mengatakan kepada anaknya, Tina, adik belum makan!
3.      Metode Deskriftif
Metode deskriftif dapat digunakan untuk memberikan, mengganmbarkan, menguraikan, dan menjelaskan fenomena objek penelitian. Dalam kaitannya, metode ini menjelaskasn data atau onjek secara natural, objektif, dan faktual (Arikunto, 1993: 310).
Langkah-langkah analisis deskriptif yang dapat dilakukan untuk menganalisis wacana surat kabar, antara lain:
a.       Memilih dan menentukan jenis wacana yang akan diteliti.
b.      Menentukan unit analisis.
c.       Mendeskripsikan (menganalisis) satuan data.

Bab VIII
Aplikasi Pengkajian Dan Penelitian Wacana

A.  Wacana: Lautan Penelitian Linguistik
Masing-masing bidang penelitian linguistik memiliki basis dan orientasi tersendiri. Namun perlu diingat bahwa bahasa sebagai objek penelitian linguistik terlahir dari beberapa dimensi sekaligus.
1.    Dimensi Pikiran Manusia
Bahasa tidak begitu saja lahir dan atau terucap secara verbal, namun melewati serangkaian kodifikasi rumit dalam pikiran dan alat artikulatoris manusia.
2.    Dimensi Sistem Gramatika Kebahasaan
Setiap bahasa menuntut penutur untuk membahasakan sesuai dengan kaidah gramatika bahasa yang digunakannya. Tanpa kepatuhan terhadap sistem ini, pola pembahasaan akan menunjukan gejala kekacauan.
3.    Dimensi Konteks Tuturan
Bahasa dapat dipahami secara tepat, antara lain karena adanya konteks tuturan yang melahirkannya. Konteks adalah situasi dan kondisi yang melatarbelakangi lahirnya wacana (satuan kebahasaan) tertentu. Pemahaman konteks tuturan dapat membantu memperlancar komunikasi.

B.  Apa Yang Bisa Diteliti?
Berikut disajikan sejumlah contoh jenis wacana dan satuan lingual sebagai data analisis.
1.    Jenis: Wacana Spanduk
2.    Jenis: Wacana Percakapan Jual-Beli
3.    Jenis: Wacana Judul
4.    Jenis: Wacana Grafiti
5.    Jenis: Wacana Puisi

C.  Aplikasi Pengkajian Wacana
1.    Kajian Deskriptif Struktural Wacana Paragraf
Kutipan wacana:
Sebuah berita penting mencuat akhir pekan ini. Tujuh penasihat hukum mantan Presiden Soeharto, diketahui JF Tampubolon, datang ke Kejaksaan Agung. Mereka minta agar instansi tersebut mengeluarkan surat resmi penghentian pemeriksaan Soeharto. Alasannya, pemeriksaan terdahulu sama sekali tak ditemukan bukti bahwa Soeharto korupsi. Belum kering berita itu, esoknya (jum’at), muncul berita baru. Harian siang Berita Buana mengangkat tulisan berjudul “Pemeriksaan Soeharto Dihentikan”. (Sumber ADIL, No.24/th. Ke-67. Edisi 17-23 maret 1999. Kolom Tajuk, halaman)
                                                                                  
a.      Pendahuluan
            Paragraf adalah salah satu representasi wacana. Suatu paragraf umumnya mengandung satu ‘tema’ yang bersifat otonom. Artinya, paragraf yang satu memiliki tema atau makna yang berbeda dengan paragraf lainnya. Kutipan paragraf di atas bertopik ‘hukum politik’.
b.      Analisis (kajian)
        Terbentukanya suatu paragraf tidak terlepas dari proses pemilihan kata, cara menggabung frasa, merangkai klausa, dan menjalin kalimat. Analisis terhadap paragraf secara berurutan dimulai dari tingkat: kalimat, klausa, frasa, dan morfem. Analisis hanya mengambil beberapa bagian di tiap satuan linguistik.
1)      Analisis Tingkat Kalimat
Aspek-aspek yang harus dianalisis antara lainadalah sebagai  berikut.
a)      Jenis kalimat
     Jenis kalimat pada paragraf di atas adalah aktif-deklaratif. Sebagian pihak menyebutnya sebagai kalimat kalimat berita, karena didalamnya tidak mengandung kata-kata ajakan, perintah, pertanyaan, persilahan, dan larangan. Ciri yang menonjol dar kalimat jenis ini adalah banyak digunakan predikat berkategori verba aktif seperti kata: mencuat, datang, minta, mengeluarkan, muncul, dan mengangkat. Satu-satunya verba pasif yang ditemukan adalah kata ditemukan (pada kalimat ke-4).
b)      Struktur kalimat
     Kalimat pada paragraf di atas terdiri atas kalimat smpel, minor (berklausa satu) dan kalmat mayor,majemuk, kompleks (kalusa lebih dari satu). Kalimat yang terdiri dari satu kalusa antara lain: Sebuah berita penting mencuat akhir pekan lalu. Sedangkan kalimat lebih dari satu kalusa, antara lain: Mereka mina (1klausa= inti)
c)      Makna kalimat
     Secara berurutan, untuk memperoleh pemahaman, analisis makna kalimatnya adalah sebagai berikut. Kalimat 1) –sebuah berita penting mencuat akhir pekan laliu- bermakna informatif, yakni bahwa ada berita penting yang dipublikasikan akhir pekan lalu (sebenarnya kalmiat ini belum jelas maksudnya, kemudian dijelasjkan pada deretan kalimat berikutnya). 2) Tujuh   hukum mantan Presiden Soeharto, diketahui JF Tambolon, datang ke Kejaksaan Agung.
2)      Analisis Tingkat Klausa
          Analisis gramatikal-deskriptif pada tingkat kalusa diarahkan pada pola analisis FKP (fungsi, kategori, peran). Secara kuantutatif, jumlah kalusa pada paragraf  di atas adalah 9 buah
3)      Analisis Tingkat Frasa
         Pada paragraf di atas ditemukan jenis-jenis frasa sebagai berikut: farasa nomina, frasa numeralia, frasa preposisi, frasa adverbia. Secara kuantitatif, jumlah frasa sekurang-kurangnya sebanyak 13 buah. Sebagai contoh adalah sebagai berikut.
a)      Frasa nomina: berita penting, kejaksaan agung, surat resmi, berita baru.
b)      Frasa numeralia: tujuh penasihat hukum, sebuah berita.
c)      Frasa preposisi: ke Kejaksaan Agung.
d)     Frasa adverbia: akhir pekan lalu, belum kering.
4)      Analisis Tingkat Morfem
         Beberapa tahap analisis tingkat morfem berkaitan dengan jenis, jumlah, dan pola pembentukan morfem. Morfem pada kutipan di atas beberapa bentuk morfem bebas (misalnya, berita, penting, tujuh, dsb) dan morfem terikat (misalnya, -an, -ter, -di, dsb)














BAB III
PEMBAHASAN

(Kelebihan-Kelemahan)
3.1     Kelebihan
Penulis buku kajian wacana ini berusaha membantu pembaca memahami ‘peta masalah’ dalam kajian wacana, seperti pengertian dan ruang lingkup wacana, unsure-unsur wacana, keutuhan struktur wacana, tema-topoik-judul wacana, klasifikasi wacana, dan analisis wacana. Bahkan penulis juga menyajikan contoh-contoh penerapannya. Dengan penyajian yang demikian, ornag yang membca buku ini akan terdorong untuk menyelami lebih mendalam ihwal kajian wacana.
3.2     Kelemahan
Dalm buku kajian wacana karay Mulyana, M.Hum ini, orientasi teks tidak lagi sebagai   hal yang objektif, tetapi tergantung kepada orientasi (para) penggunaya. Sisi menantang dari cara pandang seperti ini adalah pada kehandalan wacana-yakni struktur ide yang masih abstrak dari (para) pengguna bahasa-yang mampu memberikan kerangka bagi berfungsinya  suatu bahasa secara actual (real time) dalam situasi yang nyata.






















BAB IV
SIMPULAN

            Wacana memilki unsur pendukung yang sangat lengkap dan kompleks. Unsure tersebut terdiri atas unsure verbal (linguistik), dan unsure nonverbal (non linguistik). Struktur linguistik wacana merupakan satuan lingual tertinggi dan telengkap dalam hirarki kebahasaan. Sementara, unsure non linguistik yang melingkupinya mengandung sejumlah besar pengetahuan dan informasi tak terbatas. Hal ini mengisyaratkan, bahwa wacana adalah objek kajian yang luasa, dan bersifat kontekstual.
Berdasarkan kenyataan tersebut, kajian dan atau penelitian terhadap wacana membutuhkan seperangkat pengetahuan yang luas, mendalam, dan memadai.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyana. 2005. Kajian Wacana (Teori, Metode, dan Aplikasi Prinsip-prinsip analisis Wacana) Yogyakarta: Tiara Wacana.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008). Jakarta: 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar